Eksistensialisme dan Pendidik
Definisi
eksistensialisme tidak mudah dirumuskan, bahkan kaum eksistensialis sendiri
tidak sepakat mengenai rumusan apa sebenarnya eksistensialisme itu. Sekalipun demikian, ada sesuatu yang
disepakati, baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama
menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral. Namun tidak ada salahnya, untuk memberikan sedikit
gambaran tentang eksistensialisme ini, berikut akan dipaparkan pengertiannya.
Kata dasar
eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari bahasa Latin ex yang
berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah
berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya
sendiri, manusia sadar tentang dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau
pribadi. Pikiran semacam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein (da artinya di
sana, sein artinya berada).
Dari uraian di
atas dapat diambil pengertian bahwa cara berada manusia itu menunjukkan bahwa ia merupakan kesatuan dengan alam jasmani, ia satu susunan dengan alam
jasmani, manusia selalu mengkonstruksi dirinya, jadi ia tidak pernah
selesai. Dengan demikian, manusia selalu dalam keadaan membelum; ia selalu
sedang ini atau sedang itu. Filsafat eksistensialisme adalah salah satu aliran
filsafat yang mengguncangkan dunia walaupun filsafat ini tidak luar biasa dan
akar-akarnya ternyata tidak dapat bertahan dari berbagai kritik.
Filsafat selalu
lahir dari suatu krisis. Krisis berarti penentuan. Bila terjadi krisis, orang
biasanya meninjau kembali pokok pangkal
yang lama dan mencoba apakah ia dapat
tahan uji. Dengan demikian filsafat adalah perjalanan dari satu krisis ke
krisis yang lain. Begitu juga filsafat eksistensialisme lahir dari berbagai
krisis atau merupakan reaksi atas aliran filsafat yang telah ada sebelumnya
atau situasi dan kondisi dunia. Tokoh-tokoh eksistensialisme ini cukup banyak,
di antaranya: Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Karl Jaspers, Martin Heidegger,
Gabriel Marcel, dan Sartre.
Pandangan
tentang Eksistensi menurut Kierkegaard mengawali pemikirannya bidang eksistensi
dengan mengajukan pernyataan ini; bagi manusia, yang terpenting dan utama
adalah keadaan dirinya atau eksistensi dirinya. Eksistensi manusia bukanlah
statis tetapi senantiasa menjadi, artinya manusia itu selalu bergerak dari
kemungkinan kenyataan. Proses ini berubah, bila kini sebagai sesuatu yang
mungkin, maka besok akan berubah menjadi kenyataan. Karena manusia itu memiliki
kebebasan, maka gerak perkembangan ini semuanya berdasarkan pada manusia itu
sendiri. Eksistensi manusia justru terjadi dalam kebebassannya. Kebebasan itu
muncul dalam aneka perbuatan manusia. Baginya bereksistensi berarti berani
mengambil keputusan yang menentukan bagi hidupnya. Konsekuensinya, jika kita
tidak berani mengambil keputusan dan tidak berani berbuat, maka kita tidak
bereksistensi dalam arti sebenarnya.
Dari perspektif eksistensialisme, pendidikan sejatinya
adalah upaya pembebasan manusia dari belenggu-belenggu yang mengurungnya. Sehingga
terwujudlah eksistensi manusia ke arah yang lebih humanis dan beradab. Beberapa
pemikiran eksistensialisme dapat menjadi landasan atau semacam bahan renungan
bagi para pendidik agar proses pendidikan yang dilakukan semakin mengarah pada
pembebasan manusia yang sesungguhnya.
Eksistensialisme
menentang ajaran materialisme yang memperhatikan prinsip manusia
yang hanya sebagai benda. Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang
segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi. Yaitu cara manusia berada di
dalam dunia. Cara manusia berada di dalam dunia berbeda dengan cara berada
benda-benda. Filsafat eksistensialisme menutamakan individu sebagai
faktor dalam menentukan apa yang baik dan dan benar. Norma-norma hidup berbeda
secara individual dan ditentukan masing-masing secara bebas.
Aliran eksistensialisme memandang
siswa sebagai makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas
pilihannya dan siswa dipandang sebagai makhluk yang utuh yaitu yang akal
pikiran, rohani, dan jasmani yang semua itu merupakan kebulatan dan semua itu
perlu dikembangkan melalui pendidikan. Dengan melaksanakan kebebasan pribadi,
para siswa akan belajar dasar-dasar tanggung jawab pribadi dan sosial.
Aliran eksistensialisme menilai
kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu
akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan kepekaan personal yang disebut
Greene “kebangkitan yang luas”. Kurikulum ideal adalah kurikulum yang memberi
para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk
mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka
sendiri, dan menarik kesimpulan mereka sendiri.
Menurut pandangan eksistensialisme,
tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang
lainnya. Mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan
dirinya dan kesadaran akan dunianya.
Kurikulum eksistensialisme
memberikan perhatian yang besar terhadap humaniora dan seni. Karena kedua
materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan
mengenalkan gambaran dirinya. Pelajaran harus didorong untuk melakukan
kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta
memperoleh pengetahuan yang diharapkan
Diskusi merupakan metode utama dalam
pandangan eksistensialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi guru
tentang mata pelajaran. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu
berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa
dalam pemenuhan dirinya.
Eksistensialisme
berpandangan bahwa eksistensi di atas dunia selalu terkait pada
keputusan-keputusan individu, artinya,
andaikan individu tidak mengambil suatu keputusan maka pastilah tidak ada yang terjadi.
Individu sangat menentukan terhadap sesuatu yang baik, terutama sekali bagi
kepentingan dirinya. Jadi menurut aliran ini manusia itu sendirilah yang dapat
menentukan seseuatu itu baik atau buruk. Ungkapan dari aliran ini adalah “
Truth is subjectivity” atau kebenaran terletak pada pribadinya maka disebutlah
baik, dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak baik bagi pribadinya maka
itulah yang buruk.
Untuk dapat
mengamplikasikan eksistensialisme dalam pendidikan terutama dalam mengembangan
kebebasan bagi setiap peserta didik
dalam mengambil suatu keputusan maka diperlukan peran guru sebagai
pendidik dalam Melindungi
dan memelihara kebebasan akademik, dimana mungkin guru pada hari ini, besok
lusa menjadi murid.
Para guru harus memberikan kebebasan
kepada siswa memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan
membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini
berlawanan dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh
melakukan apa saja yang mereka sukai : logika menunjukkan bahwa kebebasan
memiliki aturan, dan rasa hormat akan kebebasan orang lain itu penting.
Guru hendaknya memberi semangat
kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menanyakan
tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian guru
membimbing siswa untuk mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu
berpikir relatif dengan melalui pertanyaan-pertanyaan.
REVISI
PGSD 3A/29
089639322842
Tidak ada komentar:
Posting Komentar